Menolong hantu penasaran

  Lebaran idul fitri tahun ini saya pulang kampung, sudah setahun saya tidak mengunjungi desa yang berada di kabupaten bon****** ini, kangen sekali dengan suasana sejuk dan ramahnya penduduk kampungku.

 Seminggu setelah lebaran, saya berkunjung ke rumah kerabat di desa seberang, saya berangkat dari rumah selepas maghrib menggunakan motor.
Jalanan di desa ini sudah bagus, beraspal namun sepi kendaraan, maklum di desa. Sekitar 10 meter dari perempatan jalan raya yang saya lewati, saya melihat seorang lelaki sedang duduk dengan kepala menunduk, setelah mendekat betapa kagetnya saya karena wajah lelaki tersebut berlumuran darah.
"astaghfirullah, kenapa dengan lelaki tersebut" ucap saya dalam hati.

  Saya sempat ragu antara mau menolong atau meneruskan perjalanan saya. Karena hanya saya yang berada di lokasi kejadian,dan itu malam hari pula. Saya jadi ingat setelah membaca artikel tentang modus para pembegal motor dengan pura-pura mengalami kecelakaan atau menggunakan anak kecil yang menangis di jalan, setelah ditolong ternyata dia adalah komplotan pembegal.

  Sekitar seratus meter saya melewati perempatan tersebut saya menoleh ke belakang dan ternyata lelaki tersebut masih tetap di posisinya.
Saya jadi iba, dan mennghilangkan pikiran negatif yang ada di otak saya.
"mungkin dia korban tabrak lari, lebih baik saya menolongnya"
Saya memutar balik motor saya dan menghampiri lelaki tersebut
"mas kenapa? Mau saya anterin ke rumah sakit?"
"tolong saya mas..." kata lelaki tersebut.
Kemudian saya turun dari motor dan hendak mengangkat tubuh lelaki tersebut, badannya sungguh dingin seperti es,
"nama mas siapa?"
"warno" jawab lelaki tersebut.
"mas masih bisa bonceng kan? Gak pusing atau lemas?"
Saya bertanya karena takut waktu bonceng dia terjatuh.
Dia hanya mengangguk mengiyakan.
Saya berniat membawa lelaki tersebut ke klinik terdekat di desa kerabat saya karena disana desanya lebih maju.ada klinik yang lumayan besar disana, kebetulan tidak jauh dari sini.

  Selama diperjalanan saya terus menjaga kesadaran lelaki tersebut takut terjatuh, kaca spion yang satu saya arahkan ke lelaki tersebut.
"mas kenapa bisa luka-luka begitu?"
Dia diam, mungkin dia pusing pikirku.
"mas ditabrak sama orang ya? Terus orangnya kabur?"
Dia mengangguk.
Karena terus saya perhatikan lelaki tersebut mengatakan "jangan liatin saya terus" dengan nada berat. 
"oh maaf, takut jatuh masnya"
Setelah itu saya mengarahkan pandanganku ke jalan dan hanya sesekali memandang spion.

  Muka lelaki tersebut benar benar menyeramkan, beberapa robek dan darah mengucur sampai ke bajunya. Saya sampai tak berani memandang wajahnya walau lewat kaca spion.
Saat saya menambah kecepatan agar segera sampai kerumah sakit tangan kanan lelaki tersebut memegang pundakku, walau saya memakai jaket dinginnya tangan lelaki tersebut tembus sampai membuat saya sedikit tersentak.
Sesampai di depan klinik,
"antarkan saya sampai sini saja tidak usah kedalam" kata lelaki tersebut.
"gak papa nih mas, saya tungguin juga gak papa" tawarku."
"gak usah, terima kasih sudah mengantarkan saya."
"ya udah mas warno, saya tinggal"
"iya" jawab lelaki tersebut dengan ekspresi yang sama dari awal kita ketemu.

  Setelah beberapa meter saya memacu motor, saya menoleh ke belakang memastikan lelaki tersebut, dan ternyata sudah tidak ada, mungkin sudah masuk pikirku.

"kenapa malem sekali dateng nya ndo?" sapa pak dhe ku sesampai di rumahnya.
"iya pak dhe, habis nganterin orang ke klinik, habis kecelakaan."
"siapa yang kecelakaan, dimana ndo?"
"itu diperempatan jalan yang mau masuk ke desa ini loo.."
"siapa? Kamu kenal orangnya?"
"tidak kenal pak dhe..kata dia namanya warno"
Pak dhe saya rada kaget saya menyebut nama warno,
"ndo, disitu ada orang ndak waktu kamu tolong dia?" tanya bu dhe ku sambil keluar dari dalam membawakan teh hangat untuk saya dan kopi buat pak dhe.
"nah itu budhe, gak ada orang sama sekali disitu, sepi, rada ngeri juga waktu nolong dia, takut komplotan pembegal" kataku.
"ndo di perempatan situ terjadi kecelakaan minggu lalu sebelum kamu pulang kampung. Korbannya meninggal, dia warga desa ini namnya warno"
Bruaattt... Teh yang saya minum seketika muncrat karena saking kagetnya mendengar pernyataan budhe ku.
"Hah..... Terus yang saya anter ke klinik siapa dong pak dhe?"
Pak dhe hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku.
"gak papa, mungkin dia pengin kenalan sama kamu, yang penting kan niat kamu baik ndo."
Lemaslah badan ini, dan saya memutuskan menginap di rumah pak dhe malam ini.



  







Komentar